Dieng dalam Lingkup Sosial Budaya





Dieng adalah dataran tinggi yang wilayahnya meliputi kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo  yang berada di ketinggian sekitar 2000+ mdpl dengan rata-rata masyarakatnya berpencaharian sebagai petani, komoditas utamanya adalah kentang, wortel, kubis dan sayuran lainya. secara admisnistratif wilayah dieng terbagi menjadi dua yaitu Dieng kulon dan Dieng wetan, untuk dieng kulon masuk ke kecamatan Batur, Banjarnegara sedangkan dieng wetan berada di kecamatan Kejajar, wonosobo.

Dieng memiliki suhu rata-rata sekitar 16-20 derajat celcius di siang hari dan 10 derajat di malam hari pada musim kemarau, dan kadang pada bulan juni-agustus embun di wilayah dieng bersuhu di bawah 0 derajat sehingga membeku, masyarakat sekitar menyebutnya  mbun upas atau embun racun karena embun yang menempel pada tanaman akan mengakibatkan kematian pada tanaman tersebut yang mengakibatkan kerugian para petani.

Potensi alam kawasan dieng sangat melimpah, dan saat hingga saat ini masih terus di manfaatkan oleh masyarakat dengan maksimal, dari hasil penelitian yang dulu dilakukan, tanah di kawasan Dieng sangat cocok untuk ditanami tanaman  Kentang, dari situlah perekonomian masyarakat dieng mulai meningkat, sayangnya eksploitasi besar-besaran terhadap Kentang tersebut mulai berdampak buruk bagi lingkungan, pasalnya para petani disini memakai pupuk kimia atau pestisida secara berlebih selain itu pembukaan lahan pertanian disini cukup membahayakan karena lahan untuk pertanian kentang membutuhkan lahan tanpa tanaman lain, pohon di bukit di babat habis untuk pembukaan lahan pertanian kentang, hal ini menyebabkan tanah  menjadi labil karena tidak ada akar kuat  yang menopang tanah di lereng bukit yang menyebabkan potensi longsor. kemudian dampak dari pertanian tersebut yaitu erosi tanah yang menyebabkan sedimentasi di aliran sungai serayu yang memiliki hulu di daerah Tuk Bima lukar, pengukuran erosi lingkungan dapat dilakukan di daerah aliran sungai (DAS), dari tahun ke tahun sedimen di sungai Serayu semakin Parah yang berdampak pada menurunya volume tampung Bendungan Jendral Soedirman  yang berfungsi sebagai penggerak turbin PLTA Mrica Banjarnegara, sehingga listrik yang di distribusikan ke wilayah Jawa-Bali mengalami penurunan. hingga saat ini belum ada upaya dari pemerintah untuk itu.


Selain potensi pertanian, wilayah dieng memiliki potensi panas bumi atau Geothermal yang dapat di fungsikan untuk pembangkit listrik. Prospek pemanfaatn energi panas bumi ini sudah dilakukan sejak tahun 1918 oleh pemerintahan Hindia Belanda dan awal pemanfaatanya dilakukan pada tahun 1981-1983 untuk tahap uji coba oleh Pertamina dengan unit power plant kecil bertenaga 2 Megawatt, untuk pengembangan potensi Geothermal ini  dilanjutkan oleh Himpurna California Energy Ltd. (HCE) pada tahun 1994 dengan hasil produksi listrik sebesar 60 MW. HCE membangun jaringan pipa-pipa penghubung  sumur penghasil uap panas dengan power plan. pada tahun 1998 terjadi sengketa antara HCE dengan PT. PLN, dan pada tahun 2000 sengketa itu dimenangkan oleh HCE. Pada tahun 2002 pemanfaatn Geothermal tersebut dipegang oleh PT.Geodipa Energi yaitu anak perusahaan dari Pertamina dan PLN yang masih berlanjut hingga saat ini (2016) yang mampu menghasilkan listrik berdaya 60 MegaWatt untuk wilayah Jawa dan Bali.

Budaya
                                          (Pertunjukan kesenian daerah saat DCF)
Masyarakat lereng Dieng memiliki tradisi unik pencukuran rambut gembel yaitu ruwatan, pencukuran rambut anak gembel ini tidak sesederhana pencukuran rambut biasa, untuk mencukur rambut tersebut, harus dari keinginan anak pemilik rambut gembel itu sendiri bukan dari keinginan orang tua ataupun paksaan, karena anak berambut gembel disini sangat di sakralkan, menurut mitos yang beredar pemilik rambut gembel disini adalah titisan para leluhur dieng. Upacara ruwatan ini dilakukan secara masal setiap tahun, yaitu Dieng Culture Festival (DCF) acara ini dirintis sejak tahun 2009, pada saat itu acara DCF pertama kali di rayakan, Festival ini dirintis oleh Dinas Pariwisata Banjarnegara dan Wonosobo, dan Panitia DCF dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) PANDHAWA yang berada di Dieng kulon, acara ini diminati masyarakat, tidak hanya masyarakat sekitar tetapi dari luar kota maupun mancanegara, untuk festival ini sudah dilakukan selam 6 kali, yang terakhir adalah Dieng Culture Festival VI pada tahun 2015, dan rencana tahun ini akan diadakan DCF ke -7 untuk tiket DCF  VII sudah tersedia di dieng.id.
Indonesia yang kaya akan potensi alam dan budayanya harus kita syukuri dan harus dijaga agar tetap lestari.
Writed and Posted by Havid Adhitama copyright
















Share this

Related Posts

Previous
Next Post »